Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

Tujuan Belajar Matematika

Seringkali siswa di dalam kelas jenuh bila terus menerus belajar matematika tanpa tahu tujuan mempelajarinya untuk apa.
Sebenarnya apa sih tujuan belajar matematika sehingga mulai TK, SD, SMP, SMU bahkan sampai perguruan tinggi kita tetap belajar matematika? Saat mau lulus SD, SMP dan SMU, matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan. Bahkan saat kita mau masuk dunia kerjapun, matematika menjadi salah satu indicator penerimaan pegawai baru.


Mengapa harus matematika?? Mengapa bukan yang lain?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita harus tahu apa tujuan belajar matematika. Tujuan belajar matematika terbagi menjadi 2, yaitu tujuan secara umum dan tujuan secara khusus.
Tujuan belajar matematika secara umum adalah untuk membentuk pola pikir kita menjadi logis, kritis, sistematis dan konsisten. Kemudian diharapkan dengan terbentuknya pola pikir seperti itu akan memudahkan kita dalam memecahkan masalah-masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari.. Jadi tujuan mempelajari matematika secara umum sifatnya adalah abstrak, tidak bisa dipegang, tidak berwujud akan tetapi bisa dirasakan akibatnya. Itulah sebabnya, mengapa matematika selalu dipakai dan dipelajari bahkan di jenjang pendidikan yang tinggi sekalipun
Sedangkan tujuan matematika secara khusus banyak sekali. Antara lain, dalam ilmu ekonomi, ada matematika ekonomi, dalam listrik dan elektronika dibutuhkan aljabar bool salah satu obyek ajar matematika, dalam penciptaan software computer diperlukan metode numeric (juga salah satu obyek ajar dalam matematika), masih banyak lagi disiplin ilmu yang menggunakan aplikasi dari matematika.
Demikianlah, pengetahuan ini disampaikan agar membuat siapa saja yang mempelajari matematika dapat memahami arah dan tujuan dalam mempelajarinya, karena berjalan tanpa arah dan tujuan bisa membuat kita tersesat dan kehilangan waktu. Walahu’alam bi showab.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengapa Semut Berhenti Sejenak Ketika Bertemu Kawannya?

Mengapa semut akan berhenti sejenak jika bertemu/berpapasan dengan semut lainnya?. Semut yang terlihat “mengadu kepala” saat bertemu itu sebenarnya sedang berkomunikasi. T.C. Schneirla, seorang peneliti di New York University, pernah mengadakan percobaan dengan semut. Ia mengambil seekor semut lalu ditaruh dalam tempat yang berisi makanan. Semut lain ditaruh dalam tempat yang berisi semut-semut musuh. Kemudian kelakuan kedua semut ini diamati terutama ketika berpapasan dengan teman-temannya di jalan.

Dari penelitian itu, Schneirla menyimpulkan bahwa zat kimia yang dikeluarkan dari makanan ataupun dari musuh semut menempel pada semut itu. Ketika bertemu dengan semut temannya, semut ini akan saling menyapa (bersentuhan). Nah, dengan saling menyapa inilah zat kimia dari semut akan memberi tahu temannya (melalui antena di kepala semut) apakah di lingkungan sekitarnya ada makanan atau ada musuh.

Kumpulan Orang-Orang Jenius di Dunia

Menilai dari sebuah kepintaran seseorang bisa jadi pekerjaan yang sangat subjektif. Apakah intelligent quotient (IQ) tinggi membuat mereka menjadi yang terpintar? Ataukah hal ini cenderung pada pencapaian seseorang?

Jika diteruskan, perdebatan seperti ini bisa jadi tidak akan ada ujungnya. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan Super Scholar menunjukkan, 50 persen penduduk dunia memiliki IQ antara 90-110 dan 2,5 persen orang memiliki IQ di atas rata-rata, yakni lebih dari 130. Data ini juga memperlihatkan bahwa 2,5 persen manusia mengalami keterbelakangan mental, dengan IQ di bawah 70; serta hanya 0,5 persen orang yang jenius atau super jenius, dengan IQ di atas 140.

Berikut daftar acak orang-orang yang layak mendapat predikat "orang terpintar", seperti dilansir Super Scholar, Selasa (4/9/2012).

Stephen W Hawking

Nama Hawking bisa jadi yang paling populer dalam daftar ini. Penulis tujuh buku best seller ini telah mengukuhkan dirinya sebagai orang jenius dengan penelitian-penelitiannya dalam bidang fisika yang telah membantu kita lebih memahami alam semesta. Dia juga menerima 14 penghargaan atas kiprahnya dalam dunia pengetahuan. Semua prestasi tersebut ditorehkan pria 70 tahun ini sambil berjuang menghadapi penyakit ALS yang dideritanya.

Kim Ung-Yong

Istilah anak ajaib (prodigy) sudah lazim kita kenal dewasa ini. Tetapi dalam kasus Kim Ung-Yong, predikat anak ajaib justru membuatnya diremehkan. Padahal, Buku Rekor Dunia (Guiness Book of World Records) mencatatkan nama pria 50 tahun ini sebagai pemegang IQ tertinggi di dunia.

Pada usia dua tahun, Ung-Yong fasih berbicara dalam empat bahasa. Kemudian, pada usia empat tahun, Ung-Yong mengikuti kelas kuliah.

Jika keajaiban ini tidak cukup, Ung-Yong juga diundang lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk mengikuti pendidikan di Negara Paman Sam tersebut di usianya yang ke-8. Pada usia remaja, Ung-Yong yang ber-IQ 210 ini mulai bekerja di NASA.

Paul Allen

Di usia ke-59 tahun, Allen telah mengubah kecerdasannya sebagai sumber pundi-pundi uang dengan ikut mendirikan Microsoft.

Dengan kekayaan senilai USD14,2 miliar, Allen menduduki peringkat ke-48 dalam daftar orang kaya di dunia. Allen memiliki beberapa perusahaan, klub-klub olahraga, dan menjadi salah satu filantropis besar di dunia.

Pemilik IQ 170 ini mencatatkan nilai sempurna 1.600 pada SAT, sebuah tes potensi akademik versi Amerika.

Rick Rosner

Dengan IQ 192, kita tentu tidak akan mengira bahwa pria 52 tahun ini bekerja sebagai penulis skenario di televisi yang sering bekerja dengan komedian Jimmy Kimmel.

Tetapi, pria ini tidak seperti orang jenius kebanyakan. Bahkan, faktanya, dalam resumenya, Rosner pernah bekerja sebagai penari telanjang (stripper), pelayan di arena roller skate, dan model telanjang. Rosner juga kerap mengganti namanya supaya bisa tetap bersekolah di SMA hingga akhir usia 20-nya.

Gary Kasparov

Pada usia 22 tahun Kasparov menyabet gelar juara dunia catur, usia termuda sebagai master catur. Pria 49 tahun ber-IQ 190 ini pensiun dari dunia olahraga pada 2005.

Setelah pensiun, Kasparov mendedikasikan waktu dan sumber dayanya sebagai penulis. Dia juga aktif dalam bidang politik. Bahkan, pendiri United Civil Front ini mencalonkan diri sebagai presiden Rusia.

Sir Andrew Wiles

Pada 1995, matematikawan Inggris Sir Andrew Wiles membuktikan teori matematika "Fermat's Last Theorem". Teori berusia 358 tahun ini secara luas diakui sebagai problem matematika tersulit di dunia.

Pria berusia 59 tahun ini memiliki IQ 170. Selain menerima 15 penghargaan dalam bidang ilmu pengetahuan, Wiles juga mendapatkan gelar "Sir" dari Ratu Inggris atas kontribusinya pada matematika.

Judit Polgar

Ayah Polgar membesarkan dan mendidik Polgar dan saudara perempuannya dalam sebuah eksperimen pendidikan. Sang ayah ingin membuktikan bahwa seseorang dapat meraih pencapaian tinggi jika dilatih pada bidang tertentu sejak kecil. Dapat dikatakan, percobaan tersebut berhasil.

Pada usia 15 tahun, wanita ber-Iq 170 ini merebut gelar grand champion catur termuda. anak ajaib itu mengalahkan rekor Bobby Fischer hanya dalam selang waktu satu bulan.

Christoper Hirata
Hirata bisa jadi merupakan salah satu orang pintar yang patut kita cemburui. Dia menjadi peraih medali emas termuda dalam Olimpiade Fisika Internasional di usia 13 tahun.

Pada usia 14 tahun, pemilik IQ 225 ini telah kuliah di Caltech. Di usianya ke-16, sang anak ajaib sudah bekerja dengan NASA dalam proyek terkait kolonisasi di Mars. Bahkan, pada usia 22 tahun, Hirata berhasil meraih gelar doktor (PhD) dari Princeton. Hirata kini berusia 30 tahun.

Terrence Tao
Tao mempelajari matematika sejak balita, tepatnya ketika menyaksikan Sesame Street. Di usia dua tahun, ketika kebanyakan orang masih belajar berjalan dan berbicara, Tao telah mampu menghitung aritmatika dasar.

Pada usia sembilan tahun, Tao mengikuti kuliah matematika. Dia menjadi peserta termuda dalam Olimpiade Matematika Internasional di usianya ke-13 tahun. Tidak hanya itu, Tao juga meraih medali emas dalam ajang tersebut.

Tao meraih Ph.D dari Princeton di usia 20 tahun, dan gelar profesor di UCLA pada usia 24 tahun. Memiliki IQ 230, pria 37 tahun ini juga telah mempublikasikan lebih dari 230 makalah riset.

James Wood
Siapa kira, aktor gaek berusia 65 tahun ini ternyata jenius! Woods memiliki IQ 180. Dalam ujian SAT, Woods mencatatkan skro sempurna 800 pada tes verbal, dan 779 pada tes matematika.

Dia mengikuti kuliah aljabar di UCLA ketika masih duduk di bangku SMA. Woods mendapat beasiswa kuliah penuh di MIT. Di kampus inilah Woods terpincut dunia akting dan memutuskan berhenti kuliah. Sebagai aktor, Woods meraih dua Emmy Awards dan mengantongi dua nominasi Academy Awards.

Rabu, 08 Agustus 2012

keren, game anti korupsi ciptaan anak berusia 13 tahun dari indonesia

Game bertemakan antikorupsi buatan Fahma Waluya Rosmansyah (13), Raid the Rats, akhirnya rampung setelah digarap sejak awal tahun 2012 dengan resmi tersedia di App Store sejak tanggal 19 Juli 2012.Dibandingkan versi beta dari game ini, Raid the Rats, memiliki beberapa perbedaan pada segi visual maupun sistem permainan.Raid the Rats sempat menjadi pembicaraan karena dibuat oleh Fahma yang saat itu masih berusia 12 tahun dan sempat dipresentasikan di depan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad. Sejak semula, game ini dibuat Fahma dengan semangat pemberantasan korupsi.Saat ini, game tersebut bisa diunduh secara gratis di App Store. Untuk sementara, baru tersedia untuk platform iOS.
Sewaktu dimainkan, beberapa perbedaan yang cukup mencolok dari game ini adalah penggunaan karakter garuda sebagai tokoh utama, menggantikan robot pada versi beta.Garuda membawa bambu yang bisa menembak layaknya meriam ke arah tikus yang berlarian dari arah kanan layar menuju kiri layar. Sistem permainan tetap sama, tokoh utama harus menghalangi tikus yang ingin mencapai bagian kiri layar dengan ditembak.Dari cara bermain, kontrolnya sedikit lebih rumit karena kini melibatkan dua tangan. Jari tangan kanan mengarahkan tembakan sementara jari tangan kiri menggerakkan karakter protagonis.
Sayangnya, game ini hanya menyediakan tiga tingkatan permainan. Dua tingkatan pertama tidak mengharuskan kita untuk menggerakkan sang Garuda, hanya mengarahkan tembakan ke tikus yang berlarian ke arah kiri layar. Pada tingkat dua, hal yang sama terjadi tapi kecepatan tikus berlipat ganda.Pada tingkat tiga, kecepatan tikus kembali normal tapi kali ini sebagian dari mereka membawa karung uang yang dilemparkan ke Garuda dan harus dihindari. Dengan demikian pemain harus bisa menghindari lemparan karung uang sembari menembaki para tikus.Setelah tingkat tiga selesai, begitu pula permainannya. Sebaiknya memang harus ditambahkan tingkatan lagi pada update berikutnya.Latar belakang permainan juga tidak berubah dari tingkat pertama hingga ketiga yakni sebuah sofa yang tidak dijelaskan maksud dan konteksnya dengan permainan.Keterbatasan segi visual terjadi karena hampir seluruhnya dilakukan oleh Fahma, sehingga barangkali bisa dipertimbangkan jasa ilustrator agar membuat goresan visualnya jauh lebih rapi dan baik lagi.Untuk muatan pendidikan, game ini layak diacungi jempol karena memberikan pengetahuan mengenai korupsi terutama bagi pelajar seperti mencontek, memalak, bolos sekolah, hingga memberikan hadiah kepada guru agar bisa menaikkan nilainya.

Minggu, 05 Agustus 2012

Apakah Bangsa Indonesia Bermental Tempe?

Mestinya, dengan posisi sebagai bangsa yang menempati urutan ke 4 jumlah penduduk terbesar di dunia, Indonesia mampu tumbuh dan berkembang menjadi negara dan bangsa yang memiliki kekuatan tersendiri di panggung dunia. Jumlah penduduk yang besar, jelas merupakan potensi yang harus dioptimalkan. Sumber daya manusia ini, tentu harus dapat dikembangkan, sehingga benar-benar dapat dijadikan "aset" penting pembangunan, dan bukan sebalik nya menjadi "liabilitas". Oleh karena itu, betul-betul sebuah "penghinaan" bagi kita sebagai suatu bangsa, tatkala ada yang menyatakan bahwa sekarang ini Indonesia tergolong ke dalam negara diambang gagal (Failed State).

       Suka atau tidak, citra Indonesia yang tercatat sebagai "negara gagal", memang telah membahana ke seluruh warga dunia.  Seperti yang sudah diduga sebelumnya, publikasi Indeks Negara Gagal (Failed State Indeks/FSI) 2012 yang memposisikan Indonesia di urutan ke 63 dari 178 negara, pasti akan melahirkan beragam macam tanggapan. Sebagai bangsa yang berdaulat, tentu kita tidak pantas hanya berdiam diri sambil manggut-manggut kepala dalam menyikapi penilaian yang memalukan tersebut. Indonesia bukanlah "bangsa tempe", sehingga dengan seenak jidat dapat dinilai menjadi apa saja.

      Sejak Indonesia merdeka 67 tahun silam, sebetulnya banyak hal yang membuat warga dunia sempat terbelalak melihat kisah sukses yang diraihnya. Salah satunya adalah keberhasilan bangsa Indonesia dalam mewujudkan swasembada beras pada tahun 1984 lalu. Prestasi ini bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma dari Badan Pangan Dunia (FAO), tapi lebih merupakan perjuangan kaum tani bersama-sama Pemerintah
dalam mengeksiskan diri selaku bangsa yang memiliki karakter dan kemampuan, sekaligus juga memberi bukti kepada dunia bahwa kita bukanlah bangsa tempe.

      Bangga menjadi sebuah bangsa, memang harus dijadikan kebijakan yang sangat penting oleh siapapun yang diberi amanah untuk mengelola negara dan bangsa Indonesia ini. Rasa bangga ini, jelas harus selalu dihangatkan dan digaungkan dalam berbagai kesempatan. Kita tidak boleh merasa rendah diri dan mau digolongkan ke dalam deretan bangsa pecundang. Sebagai bangsa, kita harus selalu bangga dengan kekuatan idealisme, nasionalisme dan patriotisme yang selama ini memberi ruh dalam menggapai cita-cita bangsa sebagaimana yang dituangkan dalam Alenia ke empat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

      Itu sebabnya, sekali ada terpaan yang seolah-olah merendahkan martabat bangsa, maka sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membelanya. Kita harus buktikan bahwa Indonesia bukanlah tipikal bangsa yang digitalis, sehingga dengan semau-maunya diibaratkan dengan angka-angka yang berada dalam sebuah kalkulator. Kita juga bukan bangsa yang tidak memiliki tanggungjawab dan harga diri. Namun dengan membangun jiwa kebersamaan, maka kita tampilkan jati diri bangsa yang benar-benar selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan yang melekat dalam setiap nurani warga bangsanya.

      Bila selama ini masih ada diantara kita yang meragukan kemampuan selaku bangsa, maka boleh jadi hal ini dikarenakan "kegagalan" Pemerintah dalam membangun karakter selaku bangsa yang merdeka dan berdaulat. Oleh karena itu, selain Pemerintah tampak serius dalam memerangi korupsi, mestinya Pemerintah pun jangan pernah merasa bosan untuk terus menerus membangun karakter bangsa. Ini penting direnungi, karena kita bukanlah bangsa tempe, yang dengan sesuka hati dapat dicap sebagai bangsa apa saja. Kita buktikan ke pentas dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang benar-benar memiliki kekuatan besar dalam memelihara ketertiban dan perdamaian dunia yang abadi.

Rabu, 30 Mei 2012

Pelajar SD Kediri Juara Kompetisi Robot Internasional

Kediri (ANTARA) - Tim Robot Rahmat dari Sekolah Dasar (SD) Plus Rahmat Kediri, Jawa Timur, berhasil menjuarai Kompetisi Robot Internasional (IISRO) di Kuala Lumpur, Malaysia, 22-27 Mei 2012.
Guru pembimbing tim, Bambang Dwi Setiawan yang ditemui di sekolah, Rabu mengemukakan kompetisi itu berjalan dengan sangat serius, diikuti peserta dari Malaysia, Indonesia, dan beberapa negara lain.
"Kami persiapan sekitar tiga bulan untuk mengikuti kompetisi ini. Kami juga sebelumnya belajar ke Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Mereka cukup membantu kami," katanya.
Ia mengatakan, ada sembilan kategori yang dikompetisikan.
Dari jumlah itu, pihaknya hanya mengikuti lima kategori, dan berhasil memenangi tiga kategori.
Pihaknya menyebut, ketegori itu antara lain kompetisi "Robot Run" yang diikuti oleh Irfan Muhammad dan Damarjati Bagus Satrio berhasil meraih gelar juara I, "Indoor Aero Robot" yang diikuti Irfan, Damarjati, dan M Fauzan Azhima S yang berhasil meraih juara I, Aditya Narawangsa dan Abdilla Fikria Pasa juara II, dan Zaidan Rabbani M dan Wildanurrahman juara III.
Sementara itu, kategori ketiga adalah "Robot Transporter" yang diikuti oleh Irfan, Damarjati, dan Ahmad Fauzan Wida berhasil meraih juara III, dan Andi Darajat Hidayatullah, Zaidan Rabbani, serta Wildanurrahman juara III.
Bambang mengungkapkan anak-anak belajar dengan keras untuk kegiatan ini. Mereka dilatih merakit, membuat spesifikasi, dan berapa program untuk menjalankan robot tersebut.
Ia menyatakan sangat bangga dengan prestasi yang diperoleh anak didiknya. Terlebih lagi, kegiatan luar sekolah berupa merakit robot ini juga baru saja berdiri, Januari 2011.
Walaupun begitu, minat anak-anak sangat besar. Sampai saat ini ada sebanyak 90 anak baik laki-laki maupun perempuan. Mereka rata-rata kelas 4-5 di sekolah itu.
Bambang menyebut, masih harus mengevaluasi kegiatan tersebut. Terlebih mengenei kegagalan dalam dua kategori untuk menjadi juara. Hal itu juga untuk persiapan kompetisi lanjutan yang rencananya akan diselenggarakan di Jakarta dan Bandung.
"Kami akan mengikuti kompetisi selanjutnya. Saat ini, kami juga sedang siapkan," kata guru komputer tersebut.
Damarjati yang ditemui mengaku sangat senang mengikuti kegiatan itu, terlebih lagi menang. Saat kompetisi berlangsung, ia dengan teman-temannya juga sempat grogi, karena para pesaing mereka menggunakan alat yang lebih canggih.
"Alat mereka lebih canggih dan juga berpengalaman, sedangkan kami masih baru. Kami sempat grogi," katanya.
Zaidan, pelajar lainnya mengaku belajar dengan keras dengan sering melihat tentang perakitan robot lewat jaringan internet. Ia juga harus bersabar, dan selalu mengevaluasi kesalahan untuk mendapatkan hasil terbaik.
"Kuncinya harus sabar dan memperbaiki kesalahan," kata pelajar kelas empat ini.(rr)

Rabu, 16 Mei 2012

Test Otak, Apakah Anda Pintar?

Dibawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan satu pertanyaan bonus. Jawablah semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir sedetik, jawab segera. OK?
Ayo cari tahu, seberapa pintar anda… .
Siap? GO!!!
Pertanyaan pertama:
A nda ikut berlomba. Anda menyalip orang di posisi nomor dua. Sekarang posisi anda nomor berapa?
Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu, anda SALAH BESAR! Jika anda menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang ada di posisi nomor dua!
Jangan ngaco lagi, ya?.
Sekarang jawab pertanyaan kedua, tapi jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan
pertama tadi, OK ?
Pertanyaan Kedua:
Jika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang anda di posisi…?
Jawaban: Jika anda menjawab anda orang kedua dari terakhir, anda SALAH LAGI… Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?
Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, ‘ kan?
Pertanyaan ketiga:
Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja. JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator. Cobalah.
Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya. Sekarang tambahkan 1000 lagi.
Sekarang tambahkan 30 . ! Tambahkan 1000 lagi. Sekarang tambahkan 20. Sekarang tambahkan 1000 Sekarang tambahkan 10. Berapa totalnya?
Apakah hasilnya 5000 ?
Jawaban yang benar adalah 4100.
Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!
Hari apes, ‘kan? Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar…….Mungkin.
Pertanyaan keempat:
Ayah Mary punya lima andak: 1. Nana, 2. Nene, 3. Nini, 4. Nono. Siapa nama anak kelima?
Apa anda menjawab Nunu?
BUKAN! Tentu saja bukan. Anak kelima namanya Mary. Baca lagi pertanyaannya!
Okay, sekarang ronde bonus:
SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi. Dengan menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan keinginannya pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi…
Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?
Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu…
KIRIMKANLAH TES INI UNTUK MEMBUAT FRUSTASI ORANG-ORANG YG MERASA PINTAR YG ANDA KENAL!
He..he..he…

Minggu, 29 Januari 2012

Perjuangan Seorang Guru Membangun Perpustakaan di Daerah Terpencil

PELALAWAN, Usia 23 tahun merupakan usia terbilang muda bagi seorang remaja untuk memutuskan hidup mandiri. Apalagi, memiliki keberanian untuk mendirikan sekolah di sebuah lokasi transmigran yang terletak di kawasan pelosok yang belum terjamah. Dialah Edi Mohammad Muhtar, yang pada tahun 1991, dalam usia remaja, nekat meninggalkan tanah kelahirannya di Cianjur, Jawa Barat.
Edi mengadu nasib ke Kampar (sekarang Pelalawan), Riau. Ia menetap di sebuah kecamatan terpencil, Ukui, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pelalawan. Untuk mencapai Ukui dari Pekanbaru, diperlukan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil atau motor. Sama sekali tidak ada angkutan umum.
Medan yang harus dilalui menuju Ukui pun terbilang berat. Kawasan itu terletak di tengah perkebunan kelapa sawit. Jalan berliku mendaki bukit dan hanya beralaskan tanah sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Ukui.
Edi mengisahkan, selesai menamatkan pendidikan guru agama (PGA) pada tahun 1988, dirinya sempat mengajar sebagai tenaga honorer di Cianjur. Saat ada program transmigrasi pemerintah pada tahun 1991, Edi meninggalkan keluarganya yang tinggal di kota itu menuju Riau. Pada waktu itu, usia Edi 23 tahun.
Dengan bantuan petugas transmigrasi, Edi pun akhirnya mencapai Ukui bersama ratusan transmigran lain dari Pulau Jawa. Sesampainya di kota kecil itu, Edi menyimpan rasa kaget luar biasa, saat melihat wilayah yang akan didiaminya.
“Wah dulu ini sebelum ada sawit, hutan semua. Pohon-pohon tinggi, masih ada harimau, macan, dan gajah yang bisa dilihat dekat rumah,” kata Edi, Kamis (24/11/2011), saat dijumpai Kompas.com, di SDN 012 Silikuan Hulu, Riau.
Seiring dengan perjalanan waktu, kawasan Ukui mulai berubah “wajah”. Rumah-rumah tinggal mulai dibangun, dengan perkebunan sawit yang luasnya mencapai ratusan ribu hektar. Binatang-binatang liar pun mulai menyingkir.
Membangun pendidikan di Ukui
Ketika itu, Edi tinggal bersama orangtua angkatnya yang sudah lebih dulu mengikuti program transmigrasi di Ukui. Saat awal menginjakkan kaki di sana, Edi sempat luntang lantung tanpa pekerjaan. Pasalnya, mayoritas penduduk Ukui adalah petani sawit dan menjadi petani sawit bukanlah hasrat Edi.
“Akhirnya, karena latar belakang saya guru, saya waktu itu sudah ingin sekali mengajar. Tapi tidak ada sekolah,” katanya.
Edi mengenang, pada tahun 1991, hanya ada satu sekolah di Kecamatan Ukui. Sementara, ada 15 desa di Ukui yang tersebar di bukit-bukit.
Akhirnya, Edi pun memutuskan membantu temannya sebagai tenaga honorer guru agama di sebuah sekolah dasar (SD) yang letaknya belasan kilometer dari desanya di Silikuan Hulu.
“Dulu, gaji saya sebulan Rp 30.000-Rp 40.000. Zaman dulu sih udah cukup itu. Apalagi, di pedalaman begini enggak butuh banyak,” ujar Edi.
Setelah setahun mengabdi di sana, Edi memutuskan keluar. Ia ingin mewujudkan mimpinya yaitu mendirikan sekolah di tengah-tengah masyarakat Silikuan Hulu. Motivasinya cukup sederhana. Edi merasa miris melihat banyak anak-anak di Silikuan Hulu tidak mengenyam pendidikan akibat sulitnya akses menuju sekolah terdekat.
“Karena dari awal sudah ada pendidikan guru, jadi jiwa pendidik saya selalu melekat. Dulu saya berpikir kalau tidak ada sekolah di lokasi transmigrasi, bagaimana mau membangun kota ini?” papar Edi.
Untuk mewujudkan mimpinya itu, Edi melakukan lobi ke berbagai pihak. Dukungan dari seluruh masyarakat Silikuan Hulu pun dikantonginya. Dengan dana swadaya masyarakat, Edi membangun sekolah dasar.
“Waktu itu belajarnya masih di barak-barak di lapangan dan di rumah-rumah warga. Pengajar juga dari warga semua, enggak ada yang pendidikan resmi. Belajar pokoknya seadanya, ha-ha-ha,” kata pria berkumis ini sambil tertawa.
Lambat laun, Edi bersama warga sekitar juga mulai membangun Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Semua dari bantuan masyarakat,” katanya.
Pemerintah daerah melalui Kabupaten Kampar pada akhir tahun 1992 akhirnya memberikan bantuan berupa bangunan permanen. Sekolah kemudian berubah nama menjadi SDN Air Putih lalu berubah lagi menjadi SDN 012 Silikuan Hulu.
Edi menceritakan, saat itu, desa Silikuan Hulu merupakan bagian dari Desa Air Putih. Tetapi, sejak tahun 2000-an, Desa Silikuan Hulu berdiri sendiri di bawah Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.
Ketika gedung baru sudah didapat, proses belajar mengajar pun berlangsung formal sesuai dengan aturan yang ditetapkan Dinas Pendidikan Riau. Namun, tetap dengan segala keterbatasan yang ada di kawasan pedalaman.
“Beda pedalaman dengan kota itu jauh,” ucap Edi.
Di kota, katanya, fasilitas serba memadai. Sementara di pedalaman, untuk mendapatkan buku saja harus menunggu giliran. Buku-buku yang ada akhirnya dipakai bersama-sama oleh para siswa. Dengan sulitnya mendapat buku, Edi pun tak bermimpi membangun perpustakaan.
“Mana bisa bangun perpustakaan? Orang ruangannya enggak ada. Bukunya apa lagi,” canda Edi.
Tetapi, pada tahun 2010, melalui program Pelita Pustaka Tanoto Foundation, SDN 012 Silikuan Hulu mendapatkan bantuan 120 buku pinjaman dan pelatihan gratis tentang manajemen perpustakaan. Namun, program itu tidak memberikan dana untuk membangun perpustakaan.
“Iya kurangnya karena tidak ada dana. Kami berpikir, perpustakaan itu penting untuk anak-anak. Akhirnya bahan-bahan kayu yang ada di sekitar kami dikumpulkan dan bangun sendiri,” ujar ayah satu anak ini.
Untuk pembangunan perpustakaan mini berukuran 7×8 meter ini, para orangtua siswa juga turt berkontribusi dengan menyumbangkan Rp 70.000. Meski sederhana dan terbuat dari kayu tanpa ada lampu penerangan, para siswa ternyata tetap antusias.
“Kami bersyukur sampai penuh sesak kalau tidak dibatasi dan enggak dijadwal,” tambahnya.
Saat ini, Edi menjabat sebagai Kepala SDN 012 Silikuan Hulu. Ia bertanggung jawab terhadap proses pendidikan bagi 125 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sana.
Ia masih menyimpan satu harapan, yaitu perhatian dari pejabat setempat untuk memberikan bantuan buku kepada anak didiknya. Edi tahu, risiko tinggal di pedalaman adalah sulitnya akses dan minimnya dana untuk membangun. Namun, hal itu tentu tidak bisa dijadikan alasan untuk merenggut hak anak mendapatkan pendidikan terbaiknya. “
Siapa tahu di antara mereka ada yang sukses,” ujarnya penuh harap.
Sumber: edukasi.kompas.com

Jumat, 27 Januari 2012

Kapitalisme Pendidikan


Sudah rahasia umum jika pendidikan sekarang sangat mahal. Yah seperti kata buku, orang miskin dilarang sekolah! Memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya. Masuk TK saja bisa mencapai ratusan ribu maupun jutaan rupiah, belum lagi kalo masuk SD-SMP-SMA-Universitas yang favorit. Kalau dihitung, seseorang yang masuk TK sampai dengan universitas yang favorit akan menghabiskan 100 juta lebih. Wow! 

Sekolah memang harus mahal, itulah stigma yang tertanam di benak sebagian orang, dari orang awam dan bahkan sampai beberapa pejabat depdiknas. benarkah demikian??? Itu adalah omongan sesat, mereka yang bicara ngelantur begitu sudah pasti tidak pernah lihat kondisi luar. Malaysia, Jerman, bahkan Kuba sekalipun bisa membuat pendidikannya sangat murah dan dapat diaksese oleh sebagian besar lapisan masyarakatnya.
Pendidikan yang kapitalistik sekarang ini, yang bertujuan bisnislah yang membuat biaya-biaya membengkak. Pendidikan diserahkan sebagian kontolnya kepada swasta karena pemerintah yang kurang becus. Ada baiknya swasta ikut mengatur pendidikan sehingga masyarakat pun bisa berperan dalam lembaga pendidikan, tapi walau bagaimanapun ini bukan berarti bahwa pemerintah lepas tangan begitu saja. Ya, kan??? Pendidikan instan ala swasta yang mementingkan bisnis kjadi masalah besar buat dunia pendidikan. kadang terbaca di iklan-iklan, lembaga pendidikan yang menawarkan lulus cepat+absen tidak dihitung+dapat ijazah+dll. Sepertinya, yang penting bagi pendidikan hanyalah dapat ijazah buat kerja saja. Padahal pendidikan ditujukan untuk membangun moral individu dan tingkat pengetahuannya.
Lalu bagaimana caranya agar pendidikan bisa murah?? Wah, ini bukan persoalan gampang,dan jelas butuh pemikiran mendalam. Biar dipikir dan merenung dahulu. Tidak dituliskan disini, karena bakal sangat panjang juga.

Senin, 23 Januari 2012

Gelar....Mabuknya Pendidikan

Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama pendidikan. Kasus jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara memperoleh gelar ini sangatlah mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta, dan Anda dapat gelar yang Anda inginkan..Tinggal pilih...apakah S1, S2, atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang mabuk kepayang akan nilai gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang pernah membeli gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.

Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel, seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak heran, jika kasus wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar kelihatan mentereng menyeruak di mana-mana. Dan dengan kepala kosong, mereka mencoba mengkonsepsikan pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi? Undang-undang sekedar lobi-lobi politik dimana semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).

Tidakkah kita semua miris lihat kenyataan ini? Lalu apa gunanya gelar kalau ternyata dia hanya kedok belaka?

Guru, elemen yang terlupakan

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

Kisah Guru Teladan

Usia 23 tahun merupakan usia terbilang muda bagi seorang remaja untuk memutuskan hidup mandiri. Apalagi, memiliki keberanian untuk mendirikan sekolah di sebuah lokasi transmigran yang terletak di kawasan pelosok yang belum terjamah. Dialah Edi Mohammad Muhtar, yang pada tahun 1991, dalam usia remaja, nekat meninggalkan tanah kelahirannya di Cianjur, Jawa Barat.

Edi mengadu nasib ke Kampar (sekarang Pelalawan), Riau. Ia menetap di sebuah kecamatan terpencil, Ukui, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Pelalawan. Untuk mencapai Ukui dari Pekanbaru, diperlukan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil atau motor. Sama sekali tidak ada angkutan umum.

Medan yang harus dilalui menuju Ukui pun terbilang berat. Kawasan itu terletak di tengah perkebunan kelapa sawit. Jalan berliku mendaki bukit dan hanya beralaskan tanah sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Ukui.

Dulu, gaji saya sebulan Rp 30.000-Rp 40.000. Zaman dulu sih udah cukup itu. Apalagi, di pedalaman begini enggak butuh banyak
-- Edi Mohammad Muhtar

Edi mengisahkan, selesai menamatkan pendidikan guru agama (PGA) pada tahun 1988, dirinya sempat mengajar sebagai tenaga honorer di Cianjur. Saat ada program transmigrasi pemerintah pada tahun 1991, Edi meninggalkan keluarganya yang tinggal di kota itu menuju Riau. Pada waktu itu, usia Edi 23 tahun.

Dengan bantuan petugas transmigrasi, Edi pun akhirnya mencapai Ukui bersama ratusan transmigran lain dari Pulau Jawa. Sesampainya di kota kecil itu, Edi menyimpan rasa kaget luar biasa, saat melihat wilayah yang akan didiaminya.

"Wah dulu ini sebelum ada sawit, hutan semua. Pohon-pohon tinggi, masih ada harimau, macan, dan gajah yang bisa dilihat dekat rumah," kata Edi, Kamis (24/11/2011), saat dijumpai Kompas.com, di SDN 012 Silikuan Hulu, Riau.

Seiring dengan perjalanan waktu, kawasan Ukui mulai berubah "wajah". Rumah-rumah tinggal mulai dibangun, dengan perkebunan sawit yang luasnya mencapai ratusan ribu hektar. Binatang-binatang liar pun mulai menyingkir.

Membangun pendidikan di Ukui

Ketika itu, Edi tinggal bersama orangtua angkatnya yang sudah lebih dulu mengikuti program transmigrasi di Ukui. Saat awal menginjakkan kaki di sana, Edi sempat luntang lantung tanpa pekerjaan. Pasalnya, mayoritas penduduk Ukui adalah petani sawit dan menjadi petani sawit bukanlah hasrat Edi.

"Akhirnya, karena latar belakang saya guru, saya waktu itu sudah ingin sekali mengajar. Tapi tidak ada sekolah," katanya.

Edi mengenang, pada tahun 1991, hanya ada satu sekolah di Kecamatan Ukui. Sementara, ada 15 desa di Ukui yang tersebar di bukit-bukit.

Akhirnya, Edi pun memutuskan membantu temannya sebagai tenaga honorer guru agama di sebuah sekolah dasar (SD) yang letaknya belasan kilometer dari desanya di Silikuan Hulu.

"Dulu, gaji saya sebulan Rp 30.000-Rp 40.000. Zaman dulu sih udah cukup itu. Apalagi, di pedalaman begini enggak butuh banyak," ujar Edi.

Setelah setahun mengabdi di sana, Edi memutuskan keluar. Ia ingin mewujudkan mimpinya yaitu mendirikan sekolah di tengah-tengah masyarakat Silikuan Hulu. Motivasinya cukup sederhana. Edi merasa miris melihat banyak anak-anak di Silikuan Hulu tidak mengenyam pendidikan akibat sulitnya akses menuju sekolah terdekat.

"Karena dari awal sudah ada pendidikan guru, jadi jiwa pendidik saya selalu melekat. Dulu saya berpikir kalau tidak ada sekolah di lokasi transmigrasi, bagaimana mau membangun kota ini?" papar Edi.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Edi melakukan lobi ke berbagai pihak. Dukungan dari seluruh masyarakat Silikuan Hulu pun dikantonginya. Dengan dana swadaya masyarakat, Edi membangun sekolah dasar.

"Waktu itu belajarnya masih di barak-barak di lapangan dan di rumah-rumah warga. Pengajar juga dari warga semua, enggak ada yang pendidikan resmi. Belajar pokoknya seadanya, ha-ha-ha," kata pria berkumis ini sambil tertawa.

Lambat laun, Edi bersama warga sekitar juga mulai membangun Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Semua dari bantuan masyarakat," katanya.

Pemerintah daerah melalui Kabupaten Kampar pada akhir tahun 1992 akhirnya memberikan bantuan berupa bangunan permanen. Sekolah kemudian berubah nama menjadi SDN Air Putih lalu berubah lagi menjadi SDN 012 Silikuan Hulu.

Edi menceritakan, saat itu, desa Silikuan Hulu merupakan bagian dari Desa Air Putih. Tetapi, sejak tahun 2000-an, Desa Silikuan Hulu berdiri sendiri di bawah Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Ketika gedung baru sudah didapat, proses belajar mengajar pun berlangsung formal sesuai dengan aturan yang ditetapkan Dinas Pendidikan Riau. Namun, tetap dengan segala keterbatasan yang ada di kawasan pedalaman.

"Beda pedalaman dengan kota itu jauh," ucap Edi.

Di kota, katanya, fasilitas serba memadai. Sementara di pedalaman, untuk mendapatkan buku saja harus menunggu giliran. Buku-buku yang ada akhirnya dipakai bersama-sama oleh para siswa. Dengan sulitnya mendapat buku, Edi pun tak bermimpi membangun perpustakaan.

"Mana bisa bangun perpustakaan? Orang ruangannya enggak ada. Bukunya apa lagi," canda Edi.

Tetapi, pada tahun 2010, melalui program Pelita Pustaka Tanoto Foundation, SDN 012 Silikuan Hulu mendapatkan bantuan 120 buku pinjaman dan pelatihan gratis tentang manajemen perpustakaan. Namun, program itu tidak memberikan dana untuk membangun perpustakaan.

"Iya kurangnya karena tidak ada dana. Kami berpikir, perpustakaan itu penting untuk anak-anak. Akhirnya bahan-bahan kayu yang ada di sekitar kami dikumpulkan dan bangun sendiri," ujar ayah satu anak ini.

Untuk pembangunan perpustakaan mini berukuran 7x8 meter ini, para orangtua siswa juga turt berkontribusi dengan menyumbangkan Rp 70.000. Meski sederhana dan terbuat dari kayu tanpa ada lampu penerangan, para siswa ternyata tetap antusias.

"Kami bersyukur sampai penuh sesak kalau tidak dibatasi dan enggak dijadwal," tambahnya.

Saat ini, Edi menjabat sebagai Kepala SDN 012 Silikuan Hulu. Ia bertanggung jawab terhadap proses pendidikan bagi 125 orang siswa yang mengenyam pendidikan di sana.

Ia masih menyimpan satu harapan, yaitu perhatian dari pejabat setempat untuk memberikan bantuan buku kepada anak didiknya. Edi tahu, risiko tinggal di pedalaman adalah sulitnya akses dan minimnya dana untuk membangun. Namun, hal itu tentu tidak bisa dijadikan alasan untuk merenggut hak anak mendapatkan pendidikan terbaiknya. "

Siapa tahu di antara mereka ada yang sukses," ujarnya penuh harap.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More